HIPERTENSI
PADA USIA LANJUT
Prevalensi
meningkat dengan bertambahnya usia, dan mendekati 40% pada populasi di atas 50
tahun.
Pada
penderita hipertensi usia 60 tahun ke atas degnan TD 160-239/90-119 mmHg,
mortalitas dan morbiditas kardiovaskuar meningkat dengan meningkatnya usia,
dengan adanya komplikasi kardioaskular, dan dengan meningkatnya TD sistolik
tetapi tidak dengan meningkatnya td diastoik. Terapi dengan antihipertensi mengurangi
mortalitas dan morbiditas kardiovaskular, dengan persentase pengurangan yang
tidak tergantung dari tingginya TD (sistolik maupun diastolic) sebelum
pengobatan dan juga tidak bergantung pada ada atau tidaknya komplikasi
kardiovaskular sebelum pengobatan. Dengan demikian, dalam angka absolut,
penurunan mortalitas dan morbiditas kadiovaskular ini paling banyak pada
penderita dengan risiko tinggi, yakni penderita pria dan penderita dengan
komplikasi kardiovaskular sebelum perngobatan. Manfaat pengobatan ini berkurang
dengan meningkatnya usia dan hilanng pada usia 80 tahun keatas.
Pada
penderita usia lanjut sering terdapat gangguan fefleks kardiovaskular sehingga
mereka lebih sensitive terhadap obat-obat antihipertensi (lebih mudah terjadi
hipotensi, tertama hipotensi postural). Oleh karena itu terapi antihipertensi
harus mulai dengan dosis yang lebih kecil dari yang biasa diberikan pada orang
dewasa muda. Peningkatan dosis harus kecil dengan interval yang lebih panjang
dari biasa. Obat-obat yang sering menimbulkan hipotensi ortostatik (misalnya
guanetidin, guanadrel, prazosin) sebaiknya dihindarkan atau bila perlu
diberikan harus dengan hati hati.
Sebagai
terapi awal biasanya dianjurkan tiazid. Obat ini fefektif untuk hipertens pada
usia lanjut karena pada usia lanjut biasanya terdapat peningkatan resistensi
perifer dan bukan peningkatan curah jantung. Obat lain yang juga efektif untuk
hipertensi pada penderita yang lebih tua adalah antagonis kalsium. (β) Beta-bloker kurang efektif pada usia lanjut karena
berkurangnnya jumlah reseptor β pada usia
lanjut. Tetapi dalam kombinasi dengan diuretic, β –blocker juga efektif.
Metildopa dan konidin tampaknya lebih efektif dibandingkan β-bloker sebagai
obat tahap 2 untuk hipertensi sistolik pada usia lanjut. Vasodilator arteri
dapat ditambahkan sebagai obat tahap3, bila diperlukan. Obat ini juga dapat
digunakan sebagai obat tahap 2 bersama diuretic tanpa β-bloker karena
baroreseptor mejadi kurang sensitive degnan meningkatnya usia sehingga refleks
takikardi oleh vasodilator tidak begitu menganggu pada usia anjut.