RAMIPRIL
INDIKASI
Hipertensi ringan sedang; gaga jantung kongestif (tambahan);
setelah infark miokard pada pasien dengan gagal jantung yang terbukti secara
klinis; pasien rentan usia diadtas 55 tahun, pencegahan infark miokard, stroke,
kematian kardiovaskuler atau membutuhkan revaskularisasi.
DOSIS
Jika respon pasien tidak memuaskan terhadap sosis 5-10 mg
sehari, dianjurkan terapi kombinasi dengan antihipertensi ain seperti diuretika
non – kalsium atau antagonis kalsium.
Gagal jantung, penyakit jantung berat, hipotensi, gangguan
fungsi ginjal, ganguan
Elektrolit dan pada pasien dengan gagal jantung berat harus
diawasi dengan pengawasan.
Pada kasus yang tidak kompleks, terapi dimulai dengan 1
tablet 1,25mg, diikuti oleh 1 tablet 1,25mg 2 kali sehari selama 2-7 hari.
Minggu ke 2: 1tablet 2,5mg dua kali sehari. Minggu ke 3: 1 tablet 5mg 2 kali
sehari. Jika dosis yang sesuai sudah dititrasi, dosis penunjang dapat diberkan
sebagai dosis tunggal pada pagi hari atau sebagai dosis terbagi dua.
Pengurangan mortality (kematian) pada gagal jantung setelah
fase infark miokard akut, terapi dimuli 3 hari pertama sesudah kejadian infark.
Dosis awal yang sesuai 1,25mg-2,5mg dua kali sehari dan terapi harus dilakukan dengan pengawasan
tekanan darah dan fungsi ginjal yang ketet. Dosis ditingkatkan paling sedikit 2
hari menjadi2,5-5 mg dua kali sehari dan targendosis 5mg dua kali sehari dapat
dicapai.
PERINGATAN
Pada pasien yang menggunakan Diuretika, Penggunaan awal ACE
Inhibitor dilakukan dengan hati hati. Dosis pertama dapat menyebabkan hipotensi
terutama pada pasien yang sedang menggunakan diretika dosis tinggi, diet rendah
garam (natrium), dialysis, dehidrasi, penyakit vaskuler perifer atau
aterosklerosis menyeluruhkarena risiko penyakit renovaskuler yang tidak
bergejala; pantau fungsi ginjal sebelum dan selama pengobatan dan kurangi dosis
pada gangguan ginjal mungkin meningkatkan risiko agranulositosis pada penyakit
vaskuler kolagen (disarankan hitung jenis); reaksi anafilaktoid; menyusui;
mungkin mengatkan efek hipoglikemik insulin atau antidiabetik oral; kelainan
fungsi hati, resiko hipotensi, gagal ginjal, angioedema.
RAKSI AFAFILAKTOID. Guna menegah reaksi ini, penghambat
ACE harus dihindarkan selama dialysis dengan mebran high-flex
poyacrilonitrile dan selama apheresis hipoprotein densitas rendah dengan
dekstran sulfat.
Kerusakan hati.
KONTRAINDIKASI
Hipersensitif terhadap pengambat ACE (termasuk angioedema)
penyakit renovaskuler (pasti atau dugaan), stenosis aortic atau obstruktif
keluarnya darah dan jantung; kehamilan.
EFEK SAMPING
Hipotensi; pusing; sakit kepala, letih, asthenia, mual
(terkadang muntah), diare, (terkadang konstipasi), kram otot, batuk kering yang
persisten, gangguan kerongkongan, perubahan suara, perubahan pencecap (mungkin
disertai dengan turunnya berat badan), stomatitis dyspepsia, neri perut;
gangguan ginjal; hyperkalemia; angioedema, urtikaria, ruam kulit (termasuk
eritema multiforme dan nekrolisis epiderma toksik) dan reaksi
hipersensitivitas, gangguan darah (termasuk trombositopenia, neutropenia,
agranulositosis, dan anemia aplastic); gejala gejala saluran nafas ataus
hiponatermia, takikardia, palpitasi, aritmia, infark miokard dan stroke
(mungkin akibat hipotensi yang berat), nyeri pinggung, muka merah, sakit kuning
(hepatoseluler atau kolestatik),pankreatitis, gangguan tidur, gelisah ,
perbahan suasana hati, parestesia, impotensi, onikolisis, alopesia.
KOMPLEKS GEJALA. Telahhdilaporkan suatu kompleks gejala
untuk pengambatan ACE yang meliputi demam, serositis, vaskulitis, myalgia,
atralgia, antibody antinukear positif, laju endapan darah meningkat;
ensinofiilia, leukositosis; mungkin juga terjadi ruam kulit, fotosensitivitas
atau reaksi kulit yang lain.