PERKEMBANGAN KEPARAHAN PENYAKIT HIPERTENSI
Beberapa factor jelas
mempengaruhi prognosis (perkembangan penyakit) hipertensi, terutama hipertensi
esensial, yakni umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, kadar kolesterol serum,
glukosa darah, berat badan dan aktivitas renin plasma. Makin muda usia
penderita sewaktu mulai menderita hipertensi, makin buruk prognosisnya
(pengembangan penyakitnya). Hipertensi pada pria lebih buruk prognosisnya
dibandingkan pada wanita yang usianya sama. Oleh karena aterosklerosis yang
progresif selalu menyertai hipertensi, maka factor-faktor risiko terjadinya
aterosklerosis, misalnya peningkatan kolesterol serum, glukosa darah, dan/atau
merokok, memperburuk prognosis hipertensi. Demikian juga peningkatan aktivitas
renin pasma memperburuk prognosis hipertensi, sedangkan peningkatan berat badan
meningkatkan TD (TEKANAN DARAH).
Apapun
penyebabnya, hipertensi yang tidak diobati akan memperpendek umur penderita
karena terjadinya komplikasi. Proses arterosklorosis, yang ditentukan tertama
oleh kadar serum LDL-kolesterol dan HDL-kolesterol, dipercepat oleh hipertensi
dan percepatannya sebanding dengan keparahan hipertensinya. Percepatan proses
aterosklerosis ini dapat menimbulkan komplikasi arterosklerotik berupa
angina pectoris, infark miokard dan infark serebral. Di samping itu hipertensi sendiri
dapat menyebabkan kerusakan organ, misalnya hipertrofi ventrikel kiri, gagal
jantung kongestif perdarahan otak, kerusakan ginjal, dan dissecting aortic
aneurysm. Selanjutnya, hipertensi juga dapat berkembang menjadi hipertensi
akselerasi atau hipertensi maligna, yang ditandai dengan hikrosis arteri yang
fibrinoid. Ini terlihat pada biopsy ginjal, pada fuduskopi sebagai perdarahan
dan eksudat retina dengan atau tanpa papiludem, dan pada obat sebagai ensefalopati
hipertensif. Frekuens terjadinya semua komplikasi ini meningkat dengan makin
tingginya peningkatan TD.
Kematian
akibat hipertensi berupa kematian kardiovaskular, dengan penyakit jantung
koroner (infark miokard dan kematian mendadak) sebagai penyebab utama, diikuti
dengan penyaki serebrovaskular (terutama stroke), dan penyakit jantung lainnya
(misalnya gagal jangung kongestif). Jumlah kematia kardiovaskular meningkat
dengan tajam sejak usia 50 tahun keatas, dengan kematian akibat infark miokard
2-3 kali kematian akibat stroke.
Meskipun
penyakit jantung koroner merupakan komplikasi hipertensi yang paling sering
terjadi, tetapi sebagaimana telah disebutkan, komplikasi aterosklerotik ini
kejadiannya tidak hanya tergantung pada tingginya TD tetapi juga pada
factor-faktor risiko lainya, yakni misalnya kadar serum kolesterol (factor
utama), merokok, diabetes melitut, dan lain-lain.
Mengingat
prognosis yang buruk ini makan evaluasi penderita hipertnesi ditujukan untuk
mengetahui 3 hal berikut : 1) ada/tidaknya etiologi yang jelas dan yang mungkin
dapat diperbaiki; 2) ada tidaknya komplikasi pada organ; dan 3) ada/tidaknya
factor risiko kardiovaskular lainya. Unguk mengetahui ini, dilakukan anamnesis
dan pemeriksaan fisik yang lengkap serta beberapa pemerisaan laboratorium yang
relevan.
Baca juga mengenai Pedoman Terapi Umum Hipertensi