INDIKASI
Aritmia yang mengancam jiwa termasuk takiaritmia ventrikel,
takiaritmia ventrikel simtomatik yang tidak terus menerus, profilaksis
takikardi atrium paroksimal atau fibrilasi atrium, takikardi AV kambuhan
paroksimal, takikardi supraventrikel paroksimal setelah bedah jantung,
mempertahankan irama sinus setelah kardioversi fibrilasi atau fluter atrium.
Catatan. Penggunaan sotalol harus dibatasi untuk pengobatan aritmia ventrikel
atau profilaksis aritmia supraventrikel. Obat ini tidak boleh lagi digunakan
untuk angina, hipertensi, tirotoksikosis, atau untuk pencegahan sekunder
setelah infark miokard. Bila menghentikan sotalol untuk indikasi tersebut, dosi
harus dikurangi sedikit demi sedikit.
DOSIS
Oral dengan pemantauan EKG dan pengukuran interval QT, aritmia, dosis awal 80mg sehari dalam 1 – 2 dosis; tingkatkan sedikit demi dedikit dengan interval 2 -3 hari sampai dosis lazim 160 – 320 mg sehari dalam 2 dosis terbagi; dosis lebih tinggi 480 – 640 mg sehari untuk arimia ventrikel yang mengancam jiwa dibawah pengawasan dokter. Injeksi intravena selama 10 menit, aritmia akut, 20 -120mg dengan pemantauan EKG, jika perlu ulangi dingan interval 6jam diantara injeksi.
Catatan . bradikardia yang berlebihan dapat diatasi dengan injeksi intravena atropine sulfat 0,6-2,4mg dalam dosis terbagi 0,6mg setiap kali; overdosis lihat penanganan darurat keracunan.
PERINGATAN
Hindari putus obat
yang mendadak; terutama pada penyakit jantung iskemik, blok AV derajat pertama,
hiperensi portal (risiko memburuknya fungsi hati); diabetes; riwayat penyakit
paru obstruktif; miastenia gravis; pada anafilaksis respons terhadap adrenalin
berkurang.; kurangi dosis pada gangguan ginjal (hindarkan bila berat); koreksi hypokalemia,
hipomagnesemia, atau gangguan elektrolit lainya; diare yang parah atau yang
lama.
KONTRAINDIKASI
Asma, gagal jantung yang tak terkendali, bradikardi yang
nyata, hipotensi, sindrom penyakit sinus, blok AV derajat dua atau tiga, syok
kardiogenik; feokromositoma.
Bronkospasme. Beta – blocker, termasuk yang diangga
kardioselektif, seharusnya tidakdiberikan kepada pasien dengan riwayat asma
atau bronkospasme. Namum, pada situasi yang sangat jarang dimana beta-blocker
harus diberikan pada pasien demikian, dapat diberikan beta-blocker yang
kardioselektif dengan sangat hati hati dan dibawah pengawasan spesialis. ;
sindrom QT panjang kongenital atau yang baru diperoleh; torsades de pointes; gagal
ginjal.
EFEK SAMPING
Bradikardia, gagal jantung, hipotensi, gangguan konduksi,
bronkospasme, vasokonstriksi perifer, gangguan saluran cerna, fatique, gangguan
tidur, jarang ruam kulit dan mata kering (reversible bila obat dihenikan),
eksaserbasi psoriasis; efek aritmogenik (proaritmik) (torsades de pointes)
resiko meningkat pada wanita.
Baca juga mengenai obat Aritmia Lain Meksiletin